Model Bisnis Media Sosial, Sebuah Pengantar

Mau mencoba memulai suatu bisnis di bidang media sosial? Atau mau mulai mempelajarinya untuk mengembangkan bisnis inti kita? Maka baik kalau dimulai dari mengerti tentang model bisnis. Sebuah pertanyaan sederhana yang harus kita pikirkan jawabannya ketika akan mengembangkan bisnis menggunakan media sosial (bisnis yah.. bukan sekedar pengisi waktu luang;):
“Gimana nanti dapat keuntungannya?”
Selanjutnya
“Dari mana saja pemasukannya?”
Sebelum menjawab pertanyaaan-pertanyaan lain standar suatu perancangan bisnis, seputar bagaimana operasionalnya dan bagaimana alur finansial mulai banyaknya modal, pengeluaran-pengeluaran operasional, dan tentu balik modalnya.
Istilah Business model atau model bisnis banyak disebut ketika banyak sekali berkembang bisnis melalui internet. Menurut Magretta (2002), model bisnis adalah sebuah deskripsi tentang bagaimana cara kerja suatu perusahaan. Sebuah model bisnis yang bagus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan lama Peter Drucker terkait perusahaan tentang siapa pelanggannya? Apa yang menarik bagi pelanggan? Model bisnis juga menjawab pertanyaan fundamental setiap pengelola perusahaan: Bagaimana kita memperoleh uang dari bisnis ini? Pertimbangan ekonomi apa untuk dapat mengirimkan keinginan pelanggan dengan biaya yang layak? Bisnis model yang menurutnya bagus adalah berawal dari motivasi manusia dan berakhir dengan deskripsi tentang bagaimana memperoleh laba besar [1].
Model bisnis, adalah benar-benar suatu model, suatu gambaran abstrak tentang bisnis yang dideskripsikan. Deskripsi itu mengenai aktifitas yang berhubungan dengan produksi barang atau jasa seperti misalnya proses perancangan, pencarian materi, pembangunan, dan selanjutnya. Aktifitas selanjutnya adalah tentang hal-hal yang terkait penjualan produk tersebut: pencarian pelanggan, metode transaksi suatu penjualan, distribusi produk atau penyampaian jasa.
Sebagai model suatu bisnis, maka hal itu tidak bisa disamakan dengan strategi. Model bisnis lebih menjelaskan tentang bagaimana kerja suatu sistem dalam perusahaan dan bagaimana semua aktifitas bisa saling bekerjasama. Strategi lebih ke bagaimana sistem atau perusahaan tersebut menghadapi persaingan. Strategi juga digunakan untuk mencari jalan terbaik ketika terjadi perubahan situasi atau perkembangan teknologi sehingga perusahaan dapat menjadi yang terbaik atau setidaknya bertahan hidup. Dalam beberapa tulisan, makna model bisnis dan strategi saling dipertukarkan, namun ada beberapa tulisan pula yang memperdebatkan mana yang lebih penting antara keduanya.
Beberapa peneliti di bidang strategi dan model bisnis sepakat keduanya berbeda dan penting, seperti diungkapkan oleh George S Yip (2004) bahwa perbedaan antara “model bisnis” dan “strategi” lebih dari sekadar perbedaan kata tetapi juga konsep yang berbeda. Manajer [suatu perusahaan] perlu memisahkan konsep ini dan berpikir secara berbeda dalam mengaplikasikannya [2].
Menurut seorang penulis, pembicara, dan konsultan inovasi model bisnis, Alexander Osterwalder (2005), model bisnis adalah sebuah perangkat konseptual yang berisi himpunan dari beberapa elemen yang berhubungan dan menampakkan logika sebuah bisnis pada suatu usaha. Model bisnis menunjukkan bagaimana nilai tambah sebuah perusahaan ditawarkan kepada satu atau beberapa segmen pelanggan dan merupakan arsitektur perusahaan serta mitra-mitranya untuk membuat, memasarkan, dan mengirimkan barang atau jasa tersebut yang menimbulkan keuntungan dan aliran pendapatan yang berkelanjutan [3]. Gambar 3.1 merupakan pemikiran Osterwalder tentang elemen-elemen model bisnis.

Gambar 1 Elemen-elemen Model Bisnis menurut Ostewalder [3]
Penjabaran yang komprehensif disertai studi kasus yang banyak menjelaskan model bisnis disertai kerangka untuk memperjelas langkah-langkah pembuatan suatu model bisnis banyak diterangkan oleh Henry Chesbrough dan Richard S. Rosenbloom dari Harvard Business School [20]. Secara singkat, mereka menggambarkan model bisnis adalah jembatan antara inovasi teknologi dengan nilai ekonomisnya seperti pada gambar 3.2. Model bisnis harus dapat menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari suatu inovasi teknologi.

Gambar 2. Model Bisnis: Jembatan antara teknologi dengan nilai ekonomisnya [4]
Chesbrough dan Rosenbloom (2002) dalam riset mereka menemukan suatu pola yang menjelaskan fungsi dari model bisnis yang dapat dijadikan juga sebagai acuan kerangka kerja pembuatan model bisnis, yaitu [4]:
1. Langkah pertama adalah membuat pernyataan yang jelas mengenai value proposition, keunggulan barang/jasa yang ditawarkan untuk pengguna berdasarkan teknologi baru tersebut.
2. Mengindentifikasi segmen pasar, yaitu pengguna yang akan memakai teknologi tersebut.
3. Mendefinisikan struktur rantai nilai dalam perusahaan yang dibutuhkan untuk membuat keunggulan yang ditawarkan tersebut.
4. Memperkirakan struktur biaya dan keuntungan potensial yang didapat dari produksi teknologi tersebut berdasarkan keunggulan yang ditawarkan dan struktur rantai nilai.
5. Memaparkan posisi perusahaan dalam jejaring yang menghubungkan pihak penyedia dengan pelanggan, termasuk identifikasi potensi barang/jasa pengganti dan pesaing.
6. Merumuskan strategi untuk bersaing melalui inovasi yang ada untuk mendapatkan keuntungan dan kelebihan dari pesaing.
Langkah-langkah tersebut perlu diikuti langkah per langkah berurutan untuk memperjelas kebutuhan finansial dan membuat model yang memunculkan potensi keunggulan inovasi teknologi dalam upaya menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
[1] Magretta, Joan, Why Business Models Matter, Harvard Business Review, May 2002
[2] George S Yip, Using Strategy to Change Your Business Model, Business Strategy Review, Vol 15/2, 2004
[3] Alexander Osterwalder, What is a businesess model”, http://business-model-design.blogspot.com/2005/11/what-is-business-model.html, 5 November 2005 diakses pada 11 Juni 2008.
[4] Henry Chesbrough dan Richard S. Rosenbloo: Harvard Business School, The Role of the Business Model in Capturing Value from Innovation: Evidence from Xerox Corporation’s Technology Spinoff Companies, Industrial and Corporate Change Journal, Volume 11, Number 3, pp. 529-555, 2002, Oxford University Press.
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.



Comments
No comments yet.
Leave a comment